Toleransi Bersama Gus Dur

INSPIRATIF –

“Di sini saya tidak akan membahas masalah agama, politik dan ranah hukum. Sosok tokoh baik yang sudah terkenal maupun belum namun layak kita jadikan sosok inspiratif. Siapa sajakah itu? Simak aja di blog ini” #NovyWriter

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Semua orang tahu  Gus Dur itu dari keluarga pesantren besar yang ada di Jombang Jawa Timur. Saya mengetahui tentang Gus Dur saat masih menimba ilmu sebentar di salah satu pesantren yang ada di Jombang. Teringat saat Beliau memberikan tausiyah atau pidato di salah satu universitas yang ada di Jombang, dalam hati bertanya, “Siapakah Gus Dur ini?” batinku bertanya-tanya. Hehehe….

Waduh pernah tinggal di pesantren tapi nggak tahu sosok keluarga Pesantren Tebu Ireng yaa… Ya, saya memang tidak pernah mengulas berita-berita yang berkaitan dengan parpol dan hukum-hukum perpolitikan sih. Walau Beliau tokoh ulama yang baik, tapi blogger yang namanya Novy E.R  tidak pernah tertarik dunia perpolitikan, hukum-hukum. No Comment dech … 🙂

Saya tetap tidak pernah menjadikan sosok Gus Dur sebagai tokoh favorit saya. Karena apa? Karena saya tidak suka suka sosok kyai atau ulama masuk arena politik. Titik tanpa koma atau tanda baca apapun. Seharusnya, mau kyai, ustad, pendeta, pastur, biksu lebih baik jadi dewan penasehat politik doang bukan sebagai pemimpin politik. Dan tidak mengikuti salah satu partai politik manapun. Netral kan?

Boleh mencari pemimpin yang baik agamanya layaknya memilih pemimpin rumah tangga kita, alim (dari berbagai agama yang ada di Indonesia, asal bukan komunis aja yaa…). Namun bukan dari sosok kyai, pendeta, biksu.

Di dalam tulisan saya kali ini mengenai Gus Dur ada satu kekaguman saya. Ide ini sudah lama menancap di otak dan memori, namun baru kali ini saya ingin posting  melalui blog pribadi saya. Ya, tepat di saat Indonesia lagi dihantam ujian pemilihan pemimpin daerah terutama di wilayah DKI. Permasalahan Ahok dan Al Maidah yang kian membuat saya eneg baca kiriman informasi di sosial media. Capek juga hidden post yang berkaitan dengan perpolitikan hingga adu domba, hina menghina, dan saling adu kebenaran soal agama dan keyakinan setiap individu lagi. Jadi makin ngeri dech.

* Berbagi informasi kuliner, travelling, kesehatan saja dech… nyaman banget *

Kembali ke tokoh yang bagi saya menginspiratif, sosok Gus Dur yang bagi saya sangat menonjol itu ya sesuai dengan salah satu surah Al Kafirun tentang indahnya bertoleransi dalam beragama. Seperti diungkapkan dalam ayat keenam surah tersebut, “Untukmu agamamu, untukku agamaku.”

Kita tahu Indonesia hanya memiliki lima agama, yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Budha. Berhubung sosok pesantren yang memiliki khas gaya berbahasa ini adalah sosok yang menghormati setiap pemeluk agama lain sesuai dengan keanekaragaman negara Indonesia yang berjiwa Pancasila dan demokratis, masuklah Khonghucu sebagai salah satu agama di Indonesia. “Indonesia bukan negara agama tapi negara beragama. Ada enam agama yang  diakui di Indonesia jadi akui agama yang lain,” (kutipan Gus Dur ini semoga bukan hoax, karena sesuai dengan jiwa patriotisme Gus Dur yang menambah satu lagi agama di Indonesia).

Yuk… kita songsong masa depan Indonesia dengan penuh kedamaian dan cinta kasih kita berjiwa Pancasila yang mengetahui beragama perbedaan agama dan keyakinan di negara demokratis ini.(NV29)

Penulis,

Novita Rosyidah

Twitter @NovyWriter

Iklan

Titip Komentar

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s